Sinema Indonesia

Friday, November 17, 2006

The Unexpected FFI Nominees

Saya kaget membaca nominasi FFI. Karena jauh sekali dari apa yang saya prediksikan (coba baca posting saya terdahulu). Tapi saya tidak mau berburuk sangka. Saya harap para dewan juri yang terhormat punya jawaban tepat atas segala keputusannya. Karena saya rasa akan menimbulkan berbagai komentar.

Yang paling mencengangkan adalah tidak masuknya Berbagi Suami di kategori film terbaik. Saya rasa bukan saya saja yang kaget, tapi hampir sebagian besar orang yang mencermati perkembangan perfilman nasional. Bagaimana mungkin film yang telah mendapat penghargaan di beberapa festival, ternyata tidak dihargai di negerinya sama sekali ? Dan saya rasa semua orang juga tahu bahwa Berbagi Suami adalah karya yang utuh, perkawinan berbagai elemen yang berpadu dengan baik. Hanya Denias : Senandung Di Atas Awan yang sanggup mengimbanginya.

Dan mata saya terbelalak ketika Ekskul masuk daftar. Oh my God ? !?! What’s going on here ??? Meski banyak yang bilang bahwa ini adalah karya Nayato yang paling baik, tapi rasanya belum pantas dihargai setinggi ini. Apalagi karena Nayato himself juga dinominasikan sebagai sutradara terbaik. Lagi – lagi saya menelan ludah dan tertawa pahit.

Di sektor sutradara, saya memang sudah menduga bahwa Nia Dinata, Hanny R Saputra dan John De Rantau akan masuk dan memang sudah sepantasnya. Saya hanya luput mencatat Teddy Soeriaatmadja sebagai kuda hitam. Perkara bahwa Ruang flop di pasaran bukan jaminan bahwa karyanya ini tidak menarik secara filmis. Setidaknya Teddy tetap dikenang penonton sebagai sutradara yang selalu membingkai filmnya dengan gambar – gambar indah.

Lantas di sektor aktor utama, saya juga sudah menduga masuknya Albert Fakdawer, Ringgo Agus Rahman dan Dwi Sasono. Tapi saya sempat tak memperhitungkan Ramon Y Tungka (Ekskul). 3 hari sebelumnya saya bertemu Ramon di sebuah PH dan ia memang berharap bahwa perannya kali ini agar dapat direkognisi. Dan ternyata keinginannya terkabulkan. Congratulations, Mon ……

Di kategori aktris utama, saya rasa Jajang C Noer lebih pantas masuk nominasi ketimbang Shanty dari film yang sama. Titi boleh-lah, meskipun saya lebih memfavoritkan Dominique. Yang diluar dugaan saya adalah Ayu Ratna (Garasi).

Well, rasanya persaingan akan menjadi semakin berat, karena makin tidak mudah menebak siapa yang akan memboyong Piala Citra. HP di tangan saya berbunyi. Balasan sms dari seorang teman yang juga masuk nominasi. Sekali lagi selamat kepada nominator …….

Monday, October 30, 2006

26 Things You Should Know About Indonesian Movies 2006

01. Indika Entertainment tercatat paling produktif memproduksi film tahun ini. Setelah sukses tak terduga Rumah Pondok Indah, rumah produksi pimpinan Shanker R.S ini memborbardir bioskop dengan Ekskul, Cewe Matrepolis dan yang akan rilis : Hantu Jeruk Purut. ReXinema yang tahun lalu merilis 3 film sekaligus, tahun ini malah sama sekali tak merilis satu judul pun.

02. Nayato Fionuala menjadi sutradara paling “berpengalaman” tahun ini dengan membesut 5 film, yakni Ekskul, Gotcha (memakai nama Pingkan Utari), Hantu Jeruk Purut (menyamar sebagai Koya Pagayo), Cinta Pertama dan Alice Tidak Tinggal Disini (kembali menyamar sebagai Koya Pagayo). 3 film yang disebutkan terakhir belum dirilis dan yang menarik, keduanya dirilis dalam jarak waktu yang kurang dari 1 bulan !

03. Heart menjadi film terlaris tahun 2006 dengan mengumpulkan 1,3 juta penonton dalam tempo sebulan. Rasanya rekor ini akan bertahan hingga tahun 2006 berakhir.

04. Monty Tiwa tercatat sebagai penulis skenario paling produktif tahun dengan terlibat di 4 film sekaligus : 9 Naga, Mendadak Dangdut, Denias : Senandung Diatas Awan dan Dunia Mereka. Sekiranya Pocong jadi beredar, maka Monty akan mencatatkan rekor yang rasanya susah disaingi siapapun, termasuk oleh Nayato sekalipun.

05. Lukman Sardi adalah aktor yang paling banyak membintangi film tahun ini. Ia main di 4 film : 9 Naga, Berbagi Suami, Koper dan Pesan Dari Surga. Sepertinya rekor ini akan bertahan hingga tahun depan, karena Lukman akan membintangi setidaknya 4 film lagi : Jakarta Undercover, The Photograph, Nagabonar Jadi 2 dan Quckie Express.

06. Luna Maya menjadi aktris yang paling laris tahun ini. Ia main di 3 judul : Ekspedisi Madewa (meski hanya sekelebatan), Ruang dan Pesan Dari Surga. Luna bersaing ketat dengan aktris senior Jajang C Noer yang juga main di 3 film : Garasi, Berbagi Suami dan 6 : 30.

07. Dari 32 judul film Indonesia yang edar tahun ini, 14 diantaranya dibesut oleh sutradara yang untuk pertama kalinya mengarahkan film bioskop. Sebagian besar diantaranya gagal secara box office, dan sangat sedikit diantaranya berhasil secara kualitas. Salah satu yang berhasil adalah John De Rantau (Denias : Senandung Diatas Awan).

08. Jika sebagian besar film Indonesia mengadaptasi skrip-nya menjadi novel, maka Ekspedisi Madewa memilih menghadirkannya dalam bentuk komik. Sempat juga muncul isu bahwa akan ada game-nya, tapi entahlah, apakah proyek itu terwujud atau tidak.

09. Dua sutradara terbaik Indonesia, Rudi Soedjarwo (sutradara terbaik FFI 2004) dan Hanung Bramantyo (sutradara terbaik FFI 2005) ternyata tetap laris tahun ini. Rudi membuat 9 Naga dan Mendadak Dangdut, sementara Hanung merilis Jomblo dan Lentera Merah. Entahlah, kelarisan mereka karena faktor Piala Citra atau bukan ?!?!

10. Dari 32 judul film Indonesia yang edar tahun ini, hanya 4 judul diantaranya yang dibesut oleh sutradara perempuan. Ada Upi Avianto dengan Realita, Cinta & Rock ‘N Roll, Nia Dinata dengan Berbagi Suami, Lasja Fauzia dengan Dunia Mereka dan Sekar Ayu Asmara dengan Pesan Dari Surga.

11. Nirina Zubir boleh dinobatkan sebagai aktris Indonesia yang paling berpengaruh dalam perolehan box office. Sebelum Heart, Nirina juga sukses melariskan Mirror hingga meraih 900 ribu penonton dan 30 Hari Mencari Cinta dengan penonton mencapai 750 orang. Mengekor Nirina adalah Julie Estelle yang 2 film sebelumnya juga sukses, masing – masing Dealova (400 ribu orang) dan Alexandria (750 ribu orang).

12. Hanny R Saputra boleh dinobatkan sebagai sutradara paling berpengaruh di box office. Sebelum Heart, ia juga membuat Mirror (dengan penonton hingga 900 ribu orang) dan Virgin (dengan 1 juta penonton).

13. Dian Sastrowardoyo tak muncul dalam satu judul film pun tahun ini. Padahal tahun sebelumnya, Dian main di 3 film sekaligus : Banyu Biru, Ungu Violet dan Belahan Jiwa. Demikian pula halnya dengan Nicholas Saputra yang tahun lalu juga tampil di 2 judul : Janji Joni dan Gie.

14. Mestinya soundtrack mendukung kelarisan film. Namun ada 2 judul film Indonesia yang meski soundtrack-nya terbilang berhasil di pasaran, namun gagal meraih penonton, yaitu Garasi dan Mendadak Dangdut. Trio Garasi makin laris manggung dimana – mana, sementara Jablai-nya Titi Kamal malah disenandungkan orang hingga ke kampung – kampung. Yang menarik, karena dua soundtrack tersebut diproduksi oleh Miles Music (perusahaan rekaman milik Mira Lesmana).

15. Jika tahun lalu Leo Lumanto tampil di Mirror, maka tahun ini seorang paranormal kembali berkiprah di perfilman nasional. Dialah Ki Kusumo yang tampil dalam Rantai Bumi. Tak hanya main, Ki Kusumo bahkan sekaligus menjadi produser dari film tersebut.

16. Actor-turns-director juga meramaikan perfilman nasional tahun ini. Mereka adalah Thomas Nawilis (Gue Kapok Jatuh Cinta) dan Tengku Firmansyah (D’Girlz Begins).

17. Perfilman Indonesia tahun ini juga makin “meriah” berkat kemunculan tokoh dari luar film. Dari musik ada Syaharani (Garasi), dan Maya Hasan (Koper), sedang dari dunia sastra ada Djenar Maesa Ayu yang tampil menjadi pemeran utama dalam Koper. Moammar Emka juga muncul sekelebatan di Koper.

18. Sukses reality show masih terasa di perfilman kita. Jika tahun lalu pentolan AFI bahkan dibuatkan film oleh Indosiar dengan judul Fantasi, maka tahun ini pentolan-nya juga berjaya menjadi bintang film. Ada Ayu Ratna (yang sempat ikut Indonesian Idol) di Garasi dan Albert Fakdawer (AFI Junior) plus Michael (finalis Indonesian Idol 2005) di Denias : Senandung Diatas Awan. Jangan lupa, ada reality show yang diangkat menjadi film layar lebar, yatu Dunia Lain.

19. Tahun ini juga bisa dicatat sebagai tahun eksisnya aktor – aktris kawakan. Ada Barry Prima (Realita, Cinta & Rock ‘N Roll), Frans Tumbuan (Realita, Cinta & Rock ‘N Roll, Ekspedisi Madewa), Slamet Rahardjo (Ruang), El Manik (Berbagi Suami, Maskot), Tio Pakusadewo (Berbagi Suami) dan Didi Petet (D’Girlz Begins).

20. Tahun 2006 menjadi comeback sejumlah muka lama di perfilman nasional. Mereka adalah Ajeng Sardi (9 Naga), Ira Maya Sopha (Berbagi Suami), Ira Wibowo (I Love You, Om), Nia Zulkarnaen (Denias : Senandung Diatas Awan), Mathias Muchus (Denias : Senandung Diatas Awan) dan Bella Esperance Lee (Bangku Kosong).

21. MTV menjadi brand yang paling sering “wara – wiri” di perfilman nasional tahun ini. Ia melekat pada sejumlah VJ-nya (baik yang masih aktif maupun yang sudah mantan) yang juga berakting di film. Mereka adalah Rianti Cartwright (Jomblo, Pesan Dari Surga), Shanty (Berbagi Suami), Nirina Zubir (Heart), Ramon Y Tungka (Ekskul, Pesan Dari Surga), Arie K Untung (Gotcha), Evan Sanders (Kuntilanak) dan Cathy (Bangku Kosong).

22. Rachel Amanda dan Albert Fakdawer menjadi sedikit dari bintang cilik yang berhasil menjadi leading role di sebuah film. Dan keduanya pun bermain sama mengesankan. Amanda mengkilap berkat peran sebagai gadis cilik yang jatuh cinta pada pria yang lebih pantas sebagai ayahnya di I Love You, Om, sementara Albert digadang – gadang sebagai aktor masa depan berkat aktingnya nan alamiah di Denias : Senandung Diatas Awan.

23. Tahun ini juga menjadi tahun menyenangkan bagi sejumlah bintang baru karena mendapatkan momentumnya. Mereka adalah Ringgo Agus Rahman (Jomblo), Nadine Chandrawinata (Realita, Cinta & Rock ‘N Roll), Dominique (Berbagi Suami) dan Dwi Sasono (Mendadak Dangdut).

24. Arie Dagienkz menjadi penyiar radio paling laris bermain di film tahun ini. Ia muncul di 3 film sekaligus : Garasi, Ekspedisi Madewa dan Koper. Mengekor di belakangnya adalah teman duetnya sendiri, Desta yang sama – sama muncul di Garasi dan I Love You, Om.

25. Titi Kamal kembali mendapatkan kebintangannya tahun ini setelah berperan sebagai penyanyi dangdut di Mendadak Dangdut. Meski demikian, Titi bersikukuh tak akan menyanyi selain di film. Bahkan di ajang promosi filmnya tersebut sekalipun.

26. Ada 4 judul film nasional tahun ini yang menokohkan pemeran utamanya sebagai pemain musik. Masing – masing adalah Garasi, Realita, Cinta & Rock ‘N Roll, Mendadak Dangdut dan Pesan Dari Surga.

Sebagai tambahan, berikut daftar aktor – aktris yang menyemarakkan perfilman nasional tahun ini :

Lukman Sardi (9 Naga, Berbagi Suami, Koper, Pesan Dari Surga)
Winky Wiryawan (Ruang, Berbagi Suami, 6 : 30)
Luna Maya (Ekspedisi Madewa, Ruang, Pesan Dari Surga)
Arie Dagienkz (Garasi, Ekspedisi Madewa, Koper)
Jajang C Noer (Garasi, Berbagi Suami, 6 : 30)
Vino G Bastian (Realita, Cinta & Rock ‘N Roll, Pesan Dari Surga)
Christian Sugiono (Jomblo, Dunia Mereka)
Rachel Amanda (Heart, I Love You, Om)
Adinia Wirasti (Ruang, Dunia Mereka)
Restu Sinaga (Koper, I Love You, Om)
Ramon Y Tungka (Ekskul, Pesan Dari Surga)
El Manik (Berbagi Suami, Maskot)
Frans Tumbuan (Realita, Cinta & Rock ‘N Roll, Ekspedisi Madewa)
Rianti Cartwright (Jomblo, Pesan Dari Surga)
Desta (Garasi, I Love You, Om)
Laudya Chintya Bella (Berbagi Suami, Lentera Merah)
Catherine Wilson (D’Girlz Begins, Pesan Dari Surga)

Saturday, October 21, 2006

Ini Dia, Saingan Berat Berbagi Suami !

Di tulisan terdahulu, saya sempat “mengagungkan” Berbagi Suami sebagai film Indonesia terbaik tahun ini dan nyaris tak punya saingan. Tapi kini, saya perlu meralat statement itu. Seperti kebiasaan saya sebelumnya, jika tak diundang di premiere, saya selalu menyempatkan diri menonton film Indonesia pas dirilis di hari pertama. Kemarin, saya menonton Denias : Senandung Di Atas Awan. Saya sudah tahu garis besar ceritanya dan punya feeling bahwa John De Rantau akan membuat film yang bagus. Tapi setelah melihat hasilnya, saya kaget karena Denias melebihi ekspektasi saya. Film ini lebih bagus dari dugaan saya ! Biasanya saya punya kebiasaan buruk ketika menonton film (apapun), yaitu tertidur sejenak di tengah film (biasanya sekitar 10 – 15 menit). Dan ajaib, Denias membuat saya terjaga sepanjang film. Saya betul – betul terhibur mengikuti perjalanan Denias dengan mimpi sederhana untuk bersekolah. Baru saja 5 menit film berjalan, saya sudah merasakan kegirangan yang sangat. Karena film ini akan menjadi film yang berkualitas sekaligus menghibur. Dan benar saja, sampai film usai, kegirangan saya itu tetap terpelihara. Saya pun spontan meng-sms Ari Sihasale (produser) dan Bang Yudi Datau (director of photography) mengucapkan selamat atas karya yang indah itu.
Saya pun membuat hitung – hitungan bahwa film ini akan menjadi pesaing berat Berbagi Suami tahun ini di FFI. Karena film ini punya unsur komplit sebagaimana karya Nia Dinata tersebut. Jarang saya mendapati film dengan cerita seperti ini tak jatuh menjadi tontonan membosankan. Tapi film ini betul – betul berbeda. Senang sekali rasanya bisa melihat ada film sebagus ini di tengah makin sulitnya menemukan film Indonesia berkualitas belakangan ini. Sempat seorang teman mencurigai bahwa saya menggilai film ini karena saya diberi tugas untuk mempromosikannya. Saya hanya tertawa saja mendengarnya. Jawaban saya cuma satu : film sebagus ini patut didukung, tak peduli apakah saya diminta mempromosikannya atau tidak. Saya memang sempat melontarkan komplain via sms ke Mas Ale karena tak diberi kesempatan membantu, meski saya dijanjikan untuk bisa bekerjasama dengannya di film berikutnya. Untuk karya perdana Mas Ale sebagai produser ini, saya harus angkat topi. I salute you …..
Saya rasa film ini bisa memasukkan beberapa nominasi di FFI 2006. Mudah – mudahan tebakan saya benar. Saya menjagokan film ini untuk sektor Film Terbaik, Skenario (keroyokan antara Jeremias Nyangoen, Masrie Ruliat, Mas Monty Tiwa dan John De Rantau himself), Penyutradaraan (John De Rantau), Aktor Utama (Albert Fakdawer), Aktris Pendukung (Marcella Zalianty), Sinematografi (Yudi Datau, yang menurut saya wajib mendapat Piala Citra lagi tahun ini) dan Tata Suara.
Karenanya, saya sekaligus mengoreksi prediksi saya atas nominasi FFI 2006 :

Penulis Skenario :
01. Nia Dinata (Berbagi Suami)
02. Upi Avianto (Realita, Cinta & Rock N’ Roll)
03. Salman Aristo & Adhitya Mulya (Jomblo)
04. Jeremias Nyangoen, Masrie Ruliat, Monty Tiwa & John De Rantau (Denias : Senandung Diatas )
05. Monty Tiwa (Mendadak Dangdut)

Sutradara :
01. Nia Dinata (Berbagi Suami)
02. Hanung Bramantyo (Jomblo)
03. Upi Avianto (Realita, Cinta & Rock ‘N Roll)
04. Hanny R Saputra (Heart)
05. John De Rantau (Denias : Senandung Di Atas Awan)

Pemeran Pendukung Pria :
01. El Manik (Berbagi Suami)
02. Lukman Sardi (Berbagi Suami)
03. Fauzi Baadilla (9 Naga)
04. Butet Kertaradjasa (Maskot)
05. Slamet Rahardjo (Ruang)

Pemeran Pendukung Wanita :
01. Ira Maya Sopha (Berbagi Suami)
02. Ria Irawan (Berbagi Suami)
03. Kinaryosih (Mendadak Dangdut)
04. Nadia Saphira (Jomblo)
05. Marcella Zalianty (Denias : Senandung Di Atas Awan)

Pemeran Utama Pria :
01. Lukman Sardi (9 Naga)
02. Dwi Sasono (Mendadak Dangdut)
03. Ringgo Agus Rahman (Jomblo)
04. Winky Wiryawan (Ruang)
05. Albert Fakdewar (Denias : Senandung Di Atas Awan)

Pemeran Utama Wanita :
01. Jajang C Noer (Berbagi Suami)
02. Dominique (Berbagi Suami)
03. Nirina Zubir (Heart)
04. Rachel Amanda (I Love You, Om)
05. Luna Maya (Ruang)

Film Terbaik :
01. Berbagi Suami (Kalyana Shira Films)
02. Jomblo (SinemArt)
03. Realita, Cinta & Rock ‘N Roll (Virgo Putra Film)
04. Denias : Senandung Di Atas Awan (Alenia Production)
05. Heart (Starvision Plus)


PS :
Nama yang dicetak tebal adalah favorit saya untuk meraih Piala Citra

Friday, October 13, 2006

When Can I Working With These People ?

Dua tahun berkecimpung di bidang promosi film (sambil sesekali juga ikut dalam produksi) membuat saya bisa bekerjasama dengan nyaris semua aktor – aktris papan atas negeri ini. Saya paling sering bekerjasama dengan Luna Maya. Mulai dari Bangsal 13, Cinta Silver hingga Ruang. Mulai dari ketika Luna yang masih tergolong pemain pendatang baru hingga bisa seperti sekarang. Saya ingat suatu ketika sempat ngambek karena Luna tak membalas sms saya. Ketika itu saya baru saja membantunya di Bangsal 13. Saya sempat mengeluarkan komentar tidak enak dan membandingkan – bandingkannya dengan salah satu aktris papan atas negeri ini (yang biasanya membalas sms saya ..ha…ha…ha…) Untungnya, Luna adalah tipikal artis yang rendah hati. Ia pun buru – buru menelepon saya dan mengemukakan alasan tidak membalas sms saya. Saya masih sering terkenang kejadian itu, karena sekarang Luna sudah bisa disejajarkan dengan artis yang dulu saya banding – bandingkan dengan dirinya.

Biasanya ketika sehabis promosi, saya tak pernah lose contact dengan jajaran selebriti itu. Banyak diantaranya yang sampai sekarang masih intens berkomunikasi, tetap saling menyapa ketika bertemu dan bercerita banyak hal. Tapi ada pula yang mungkin menganggap saya tak selevel dengan mereka, sehingga tak menggubris uluran jabat saya. Untuk kalangan selebritis model ini, saya juga sudah mem-black list dengan cara saya sendiri (ha…ha…ha…) untuk tak mau bekerjasama dengan mereka di masa mendatang. Tak perlu-lah saya sebutkan nama – namanya, karena cuma ada 2 – 3 nama saja yang berperilaku negatif seperti itu.

Ketika nyaris pernah bekerjasama dengan semua aktor – aktris papan atas negeri ini, saya memimpikan untuk bisa bekerjasama dengan Tante Christine Hakim dan idola saya, Mariana Renata. Untuk seorang Christine Hakim, siapa-lah yang tidak tertarik bekerjasama dengannya. Ketika tahu Serambi diproduksi dengan dia sebagai salah satu produser-nya, saya mencoba approach ke SET (yayasan milik Mas Garin). Sayangnya tidak digubris. Padahal Serambi melakukan promosi di Makassar dan Tante Christine juga bertandang ke sana. Duh ……..

Dengan Mariana, saya memang “jatuh cinta” padanya sejak penampilannya di iklan Lux, juga tingkah laku nan menggemaskan di Janji Joni. Seorang aktor yang pernah bekerjasama dengannya juga bercerita bahwa ia sosok yang mudah dijatuhi cinta. Karena ia adorable, pemalu, pokoknya gampang membuat laki – laki jatuh hati-lah (sori nih yang jadi pacarnya Mar sekarang – maaf tidak bisa disebutkan disini, karena ini bukan infotainment). Saya sempat 2 kali bertemu dengannya. Pas ia menghadiri premiere film Ruang dimana saya jadi salah satu seksi sibuk, saya bolak – balik ke teater tempat Mar menunggu (karena ia tak bergabung dengan sesama seleb). Masya Allah, dia memang cantik sekali. Dan kedua kalinya bertemu dengan dia di sebuah tempat gaul (dia datang bersama sang pacar). Hentakan musik yang menggelegar dan cahaya remang – remang tak membuat saya melupakan niat untuk mencuri pandang. Memang baru sebatas itu, karena saya belum pernah berkenalan dengannya. Atau lebih tepatnya, dikenalkan oleh seseorang. Saya pernah curhat ke teman model yang kenal baik dengan Mar. Dengan seriusnya, teman saya itu malah memberi tips agar bisa “menaklukkan” Mar. Hah ? Saya tertawa terbahak – bahak, karena saya sebatas mengagumi saja kok. Tapi kalo jodoh, siapa yang tahu ya ..ha…ha…ha…

Makanya saya ikut senang ketika mendengar selentingan bahwa Mar akan bermain di Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer dimana Mas Garin Nugroho yang akan menjadi sutradaranya. Karena saya juga ingin sekali bisa bekerjasama dengan Mas Garin. Saya mengagumi karya – karyanya. Terlepas dari sosoknya yang kontroversial di mata sebagian orang, saya tetap menilai ia sebagai sutradara terbaik yang pernah dipunyai Indonesia. Untungnya, saya pernah pula bertemu dengannya ketika mempertontonkan Foto, Kotak & Jendela demi mengejar masuk seleksi Jogja-Netpac Asian Film Festival. Ia juga sempat melihat sebuah film yang belum tayang dan berbagi komentar atasnya. Saya kagum dengan wawasannya yang begitu luas. Sempat saya berharap bisa membantu promosi filmnya yaitu Opera Jawa, tapi rupanya film itu mungkin tak akan pernah tayang di bioskop tanah air.

Lainnya, saya juga ingin bekerjasama dengan Oom El Manik. Salah satu aktor senior yang saya kagumi. Juga dengan Bang Haji Deddy Mizwar. Entahlah, kapan impian ini terwujud.

HP saya barusan berbunyi. Sebuah sms masuk dari seorang sutradara yang cukup ternama mengajak bekerjasama untuk proyek film barunya. Surprise ………….

Thursday, October 12, 2006

Newest Indonesian Movies Release Date

Denias, Senandung Diatas Awan (Alenia Production) – 19 Oktober

Kuntilanak (MVP Pictures) – 27 Oktober

6 : 30 (Tangan Kiri Production) - 9 November

Bangku Kosong (Starvision Plus) – 16 November

KM 14 (MBS Production) – 23 November

Hantu Jeruk Purut (Indika Entertainment) – 30 November

Cinta Pertama (Maxima Pictures) – 7 Desember

Dunia Mereka (Diwangkara Films) – 14 Desember

Pesan Dari Surga (MVP Pictures) – 21 Desember

Melihat jarangnya film Indo yang laku di pasaran belakangan ini, surprise juga ngeliat daftar ini. Dan surprise lagi ketika melihat bahwa 50% dari film diatas bergenre horor. My Gosh, I’m speechless ……

Saya juga seorang penggemar horor, tapi gak yakin film – film diatas menawarkan kebaruan. Saya cuma masih menaruh sedikit harapan untuk Kuntilanak karena faktor atmosfer gambar yang rasanya akan dibuat bagus oleh Rizal. Tapi tetap saja, cerita menarik adalah yang utama. Jatuh Cinta Lagi (yang juga dibuat Rizal) meski gambarnya keren, tapi banyak dicela, dan di pasaran juga biasa – biasa saja.

Sementara Cinta Pertama mencoba formula Heart. Saya juga gak yakin film ini bakal laku. Maaf jika pesismistis, tapi biasanya karya Nayato Fionuala (alias Koya Pagayo a.k.a Pingkan Utari) selalu tanggung. Mas Hanny R Saputra dengan Heart-nya meski juga dicela – cela, tapi tetap aja bisa membuat film hiburan yang baik. Dan dia punya Nirina Zubir, soundtrack yang mengharu biru, juga pendekatan teknis yang bagus.

Saya sendiri tertarik dengan Denias, Senandung Diatas Awan. Saya rasa ceritanya menarik dan mudah – mudahan bisa bercerita secara visual dengan baik pula. Tapi saya sangat pesimis bahwa film ini akan direspon positif penonton. Meski promosinya lumayan gencar, tapi ada faktor X yang bisa membuat film tidak laku dan tak pernah kedengaran informasinya ke calon penonton. Mungkin karena faktor promosi yang tidak tepat sasaran ? Saya tidak mau berspekulasi soal itu, karena juga merasa tidak serba tahu. Tapi saya ingat betul, tepat Ramadhan tahun lalu ketika Untuk Rena dirilis. Filmnya sangat bagus, karya kedua terbaik dari Riri Riza malah menurut saya setelah Eliana Eliana. Promosinya ketika itu dipegang oleh PBAS. Baliho berukuran besar dipasang di jalan utama, spanduk juga memenuhi kota, pun dengan trailer yang berkeliaran di televisi. Spot radio di salah satu jaringan radio terbesar di Indonesia juga digeber. Nonton bareng juga diadakan di beberapa kota. Dan apa yang terjadi ? Filmnya tidak laku. Tidak sampai seminggu bertahan di bioskop ……..

Saya memang concern dengan promosi film, karena inilah bidang yang saya geluti. Sampai sekarang, saya masih kadang sulit mengerti alasan mengapa production house selalu memperlakukan promosi filmnya secara standar. Jarang sekali ada yang menawarkan ide promosi nan brilian. Semuanya hanya berkutat pada distribusi poster, flyer, baliho, spanduk, dan roadshow. Dan parahnya, jarang sekali ada treatment khusus terhadap sebuah film. Padahal menurut saya, beda film mestinya beda treatment promosinya bukan ? Saya sendiri jika diberi kepercayaan menangani promosi film, biasanya mensyaratkan agar bisa membaca skrip dan menonton filmnya terlebih dahulu, sebelum membuat strategi marketing. Karena dengan demikian, bisa dilihat diferensiasi produk-nya.

Tapi ya sudahlah. Mungkin kita memang susah sekali untuk merubah kebiasaan lama. Sama seperti ketika kita terlalu terlena dengan Orde Baru yang tahu – tahu ternyata telah menjajah kita hampir 40 tahun lamanya. Seorang teman artis (maaf, tak bisa saya sebutkan namanya) sempat berkeluh kesah bahwa film yang dibintanginya malah gak punya rencana promosi sama sekali. PH-nya gak punya rencana apapun untuk filmnya. Saya takjub sekaligus lucu dengan cerita si teman tadi. Dan memang tak ada yang bisa dilakukan teman saya itu. Ia tak punya power untuk mendorong promosi filmnya. Jika filmnya flop di pasaran, malah ia akan dapat imbasnya pula ………………….

Tuesday, October 10, 2006

Lukman Sardi - The Most (Director's) Favourite Actor of The Year

Saya “mengenal” Lukman Sardi secara tak sengaja. Suatu hari, saya dikirimkan DVD film pendek berjudul Durian karya Bang Farishad Latjuba (a.k.a Echa) untuk keperluan pemutaran di salah satu acara TV lokal di Makassar. Ide film ini menarik dan dibuat serius. Salah satu yang menarik adalah keterlibatan aktor profesional. Dulu, ketika wawasan saya akan film belum seluas sekarang, saya menganggap bahwa film pendek hanya dibuat oleh sekelompok amatir yang ingin coba – coba. Tapi menonton Durian, saya tersadarkan bahwa film pendek adalah sebuah karya yang juga bisa dibuat serius.

Lukman jadi tokoh utama di film ini. Sebagai pria beristri yang berselingkuh dengan siswi SMU. Meski berdurasi pendek, akting Lukman boleh disebut meyakinkan. Saya terkenang dengan aktingnya yang menatap diri di cermin. Sepintas seperti main – main, tapi wajahnya mampu menyiratkan rasa gusar. Ketika menonton Durian, saya tak mengenal wajah Lukman, baru ngeh ketika membaca credit title-nya.

Lukman Sardi …hmmm…. Nama yang tidak asing di telinga saya. Dan ternyata betul dugaan saya. Ia salah satu anak maestro biola Idris Sardi yang pernah bermain bersama kakaknya Ajeng berpuluh tahun silam.

Kekaguman saya akan Lukman berhenti disitu. Tak disangka, pada bulan Juni 2005, saya berkesempatan bertemu dengannya secara langsung. Promo film GIE di Makassar dipercayakan Miles Films kepada saya dan jadilah trio Nicholas Saputra, Lukman Sardi dan Mira Lesmana bertandang ke kampungku. Saya banyak bercakap dengan Lukman waktu itu. Kami pun bertukar nomer telepon.

Ketika pindah ke Jakarta akhir November 2005, dan ketika mulai sering menghadiri premiere film nasional, saya jadi sering bertemu dengan dia. Saya kagum dengan sifatnya yang humble. Dan makin kagum saya dengan totalitasnya dalam berakting. Soal yang satu ini, saya dapat banyak bocoran dari beberapa teman artis. Saya lihat, Lukman memang bukan tipe selebritis, melainkan seorang aktor sejati.

Waktu promosi film GIE di Makassar, saya sempat bilang pada Lukman, bahwa bisa jadi setelah GIE, namanya akan berkibar. Dan benar saja dugaan saya. 2006 adalah tahun miliknya. Ia produktif main film dan berakting sama baiknya. Aktingnya di 9 Naga dan Berbagi Suami tak usah dipuji lagi-lah, karena semua orang juga sudah tahu. Ia juga main sekilas di Koper-nya Pak Richard Oh. Saya sangat menunggu aktingnya di Pesan Dari Surga-nya Mbak Sekar Ayu Asmara dimana ia bermain sebagai drummer yang gay. Yup, I think it’s an interesting role, dan rasanya juga bisa dibawakan dengan menarik oleh Lukman.

Tahun depan pun, saya rasa wajah Lukman masih akan dengan gampang ditemui di layar bioskop. Jakarta Undercover yang memajangnya sebagai peran antagonis bisa jadi salah highlight karirnya. Ia juga bersiap main di The Photograph, Nagabonar Jadi 2 dan Quickie Express (yang ini, adalah karya penyutradaraan Dimas Djayadiningrat yang ke-2).

Akting yang jempolan dari Lukman memang membuat nyaris semua sutradara Indonesia ingin bekerjasama dengannya. Way to go, sob ……………….

And The Winner Is ........ Festival Film Jakarta

Satu lagi festival film menyemarakkan perfilman tanah air. Mencoba mengacu pada konsep penjurian Golden Globe, maka festival yang disebut Festival Film Jakarta ini juga mendudukkan wartawan sebagai penentu penerima penghargaan. Sebuah hal yang patut dipuji, meskipun sebenarnya kita jarang mendengar bahwa sebuah media benar – benar punya wartawan yang mengkhususkan diri pada film. Kritikus film pun bisa dihitung jari di negara ini. Tapi apapun, perhelatan telah dilaksanakan, meski buzz-nya hanya terdengar sayup – sayup.

Dan seperti yang telah diduga banyak orang, Berbagi Suami memborong 3 piala utama (maaf, saya tak tahu apa nama piala itu – biasanya kan piala dari festival diberi nama, right ?) : untuk film, sutradara dan skenario terbaik. Wajar, karena tahun ini Berbagi Suami nyaris tak punya lawan tanding sepadan (lihat tulisan saya terdahulu yang mencoba memprediksi nominasi FFI tahun ini).

Tapi dalam beberapa hal, saya tidak sependapat dengan FFJ. Seperti untuk kategori pemeran utama yang tidak memasukkan nama Lukman Sardi (9 Naga). Seperti halnya Berbagi Suami, Lukman di 9 Naga menurut saya juga terlalu tangguh bagi aktor lain. Jika pertimbangannya adalah karena Lukman sudah mendapat nominasi di kategori Pemeran Pendukung, rasanya tidak bisa demikian. Karena di 2 film itu, mau tidak mau kita harus mengakui, Lukman bermain sama baiknya dan sangat wajar untuk dapat nominasi di keduanya. Yang jadi pertanyaan besar di benak saya : kenapa Kinaryosih bisa, sedang Lukman tidak ?

Tapi ya sudahlah. Untungnya yang menang Surya Saputra yang dibanding kompetitornya memang bermain paling menarik. Perannya di Untuk Rena memang bisa jadi puncak aktingnya. Perannya menuntut pendalaman emosi yang prima. Bukan berarti Dwi Sasono dan Ringgo Agus Rahman tidak bermain bagus. Favorit saya juga adalah 2 aktor tersebut, khususnya Ringgo yang bisa membuat saya tetap terbahak – bahak meski telah menonton Jomblo hingga 5 kali.

Sementara untuk kategori Pemeran Utama Wanita, sebenarnya saya menjagokan Tante Jajang C Noer untuk masuk nominasi, tapi rupanya namanya tidak ada disana. Dan dari 5 nama yang ada dalam daftar, yang paling layak menerima piala adalah Na’ (a.k.a Nirina Zubir). Meski Heart banyak dianggap sebagai film cemen, justru Na’ menunjukkan bahwa ia tidak lantas harus bermain cemen pula. Grafik turun naik emosi yang cukup bagus diperlihatkan Na’ dalam melakoni perannya sebagai gadis tomboy bernama Rachel. Dialah yang mengangkat pamor Heart di ajang festival, sekaligus berperan melariskan film itu di pasaran.

Kategori yang menurut saya paling susah ditebak adalah Pemeran Pendukung Pria. Mas Butet Kertaradjasa, Oom El Manik dan Lukman punya kans sama besar. Hanya nama Sakurta yang menurut saya paling lemah. Saya heran kenapa nama Tio Pakusadewo (Berbagi Suami) tidak masuk ? Favorit saya adalah Oom El Manik. Luar biasa aktor senior ini. Perannya di Berbagi Suami membuat kita ngakak sekaligus tertawa meringis. Dan ia bisa membuat perannya tak jadi bahan tertawaan, padahal potensinya sangat bisa dibuat seperti itu jika dibawakan dengan pendekatan akting yang tak tepat.

Saya ingat ketika Festival Film Bandung diselenggarakan Mei lalu. Nama Oom El pun masuk nominasi, sebagaimana halnya Barry Prima. Aktor senior lainnya yang juga direkognisi juri adalah Slamet Rahardjo (Ruang). Saya mendapatkan daftar nominasinya sebelum diumumkan di media massa, dari seorang teman yang jadi salah satu panitia. Maka saya iseng meng-sms Oom Slamet untuk memberitahukan soal nominasi yang didapatkannya. Cuma butuh 5 menit, Oom Slamet balik menelepon dan menanyakan siapa saja “lawan – lawannya”. Ketika saya menyebut nama Oom El, dia langsung menyebut bahwa Oom El-lah yang akan mendapatkan penghargaan itu. Saya pun bilang terus terang ke Oom Slamet bahwa saya sepakat dengan itu. Sayangnya, feeling kami berdua SALAH ! Yang mendapatkan penghargaan adalah Barry Prima.

Terakhir, untuk Pemeran Pendukung Wanita, saya rasa Kinaryosih layak mendapatkannya. Aktingnya sebagai Julia di Mendadak Dangdut membuat saya ternganga. “ Gila, ternyata Kinar bisa main sebagus ini, “ begitu kata saya dalam hati sewaktu menonton filmnya pada premiere. Memang banyak yang surprise dengan akting Kinar disitu. Dan saya rasa, Rudi punya peran besar membuat akting Kinar mengkilap di Mendadak Dangdut.

Well, it’s a good start for Festival Film Jakarta. We’ll see then next year ………………….

Monday, October 09, 2006

Another Horror ? Oh, No ........

Erwin Arnada, executive producer ReXinema, suatu hari bercerita tentang Jelangkung. Film ini pada awalnya hanya sebuah film untuk TV (waktu itu akan diputar di Trans TV), judulnya pun sama sekali gak serem : Hutan Bambu. Ketika diputar untuk preview internal, ternyata film itu cukup menyeramkan. Maka Erwin meyakinkan agar film itu bisa diputar di bioskop. Mulailah ia menghubungi relasi – relasi, termasuk petinggi 21 agar sudi kiranya memberi slot tayang film itu. Perjuangannya memang tak gampang, apalagi Jelangkung ketika itu dibuat dalam format digital. Tak ada duit untuk mentransfernya ke seluloid. Pemutaran pun dilakukan secara gerilya. And the rest is history. Siapa yang menyangka film yang dibuat hanya dengan bujet Rp 600 juta itu bisa meledak luar biasa dan mengumpulkan 1,8 juta penonton, juga dicatat oleh Perfini sebagai film Indonesia dengan keuntungan terbesar sepanjang masa.

Maka ketika horor jadi demam nasional dimana – mana, mungkin kita juga bisa menyalahkan Erwin dan ReXinema yang secara tidak langsung menyebabkan semua itu. Saya bisa mengerti ketika itu horor banyak diproduksi dan memang mendulang untung. Tapi jika di masa sulit seperti sekarang, dan ketika horor juga mendapat respon biasa – biasa saja, genre itu masih dibuat dalam begitu banyak varian, what happen ? Saya bisa mengerti jika horor itu jika diproduksi dalam cerita yang bervariasi, tapi jika satu sama lain, cerita dan formulanya kurang lebih sama, apa yang bisa diharapkan ?

Let me tell you something. Kuntilanak dibuat dalam 2 film, satunya produksi MVP Pictures (rilis 2 November 2006) dan satunya lagi dibuat oleh Indika Entertainment. Untuk yang pertama, Kuntilanak versi Rizal Mantovani, saya masih percaya dengan tampilan visual meski tidak berharap banyak dari segi cerita.

Starvision Plus juga punya film horor lagi yang dirilis hanya 2 minggu setelah Kuntilanak-nya Rizal beredar. Judulnya Bangku Kosong. Bedanya, sutradara film ini berani sesumbar bahwa filmnya akan bisa direkognisi di FFI. Well, jadi pengen melihat hasilnya seperti apa setelah ada statement itu.

Masih banyak lagi film horor yang akan dibuat. Ada Hantu Jeruk Purut, Terowongan Casablanca, dan beberapa judul yang saya lupa (saking banyaknya film horor yang akan diproduksi).

Tapi meski pesimis, saya masih punya harapan. Bahwa dari sekian banyak film horor yang akan dibuat itu, ada 1 – 2 judul yang punya cerita berbeda dengan pendekatan yang mudah – mudahan juga berbeda ……………..